Abstract
Sumber daya nikel laterit merupakan komoditas strategis Indonesia yang memerlukan estimasi akurat sebagai dasar perencanaan teknis dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja metode geostatistik Kriging dengan metode konvensional Nearest Neighbour Point (NNP) dalam estimasi sumber daya nikel di PT X, Konawe Utara. Metode kuantitatif diterapkan pada data sekunder eksplorasi pengeboran (250 titik bor). Pemrosesan, analisis statistik, pemodelan variogram, dan estimasi dilakukan menggunakan perangkat lunak geostatistik Isatis.neo. Hasil analisis menunjukkan bahwa Ordinary Kriging menghasilkan estimasi yang lebih stabil dengan mempertimbangkan struktur spasial melalui variogram, sementara NNP cenderung bergantung pada nilai titik terdekat. Perbandingan error menggunakan Root Mean Square Error (RMSE) mengindikasikan bahwa Kriging umumnya memiliki nilai RMSE lebih rendah (misalnya, Ni limonit: 0.50 vs 0.67), menunjukkan akurasi lebih baik. Namun, NNP unggul pada parameter tertentu di zona rocky saprolite. Disimpulkan bahwa Kriging lebih representatif untuk pemodelan sumber daya nikel laterit yang kompleks, sedangkan NNP dapat menjadi alternatif cepat untuk data homogen. Studi ini merekomendasikan penggunaan Isatis.neo dengan pendekatan Kriging untuk estimasi yang optimal, dengan ketelitian pemodelan variogram sebagai kunci utama