Abstract
Struktur gedung dengan denah berbentuk L memiliki kerentanan tinggi terhadap respon torsi akibat ketidakberaturan distribusi massa dan kekakuan yang memicu eksentrisitas antara pusat massa dan pusat kekakuan. Kondisi tersebut menyebabkan respon seismik bangunan menjadi lebih kompleks dibandingkan struktur beraturan sehingga memerlukan sistem penahan gaya lateral yang mampu mengendalikan efek torsi secara efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konfigurasi perletakan dinding geser terhadap ketidakteraturan horizontal dan respon struktur Gedung DKV ITS menggunakan analisis respon spektrum linier dinamik berdasarkan SNI 1726-2019. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur eksisting mengalami ketidakberaturan torsi (Tipe 1a) pada kedua arah dengan rasio simpangan maksimum sebesar 1,20. Penambahan shear wall Model SW2 yang terdistribusi seimbang pada kedua arah (50% X; 50% Y) mampu menghilangkan ketidakberaturan torsi dengan menurunkan rasio simpangan maksimum menjadi 1,11 pada arah X dan 1,14 pada arah Y. Selain itu, simpangan antar tingkat berhasil direduksi dari 97,58 mm (X) dan 75,40 mm (Y) menjadi 21,64 mm (X) dan 40,32 mm (Y) sehingga batas simpangan izin berdasarkan SNI 1726-2019. Meskipun Model SW2 masih memiliki nilai eksentrisitas yang relatif besar, distribusi kekakuan yang lebih merata menghasilkan periode getar yang lebih rendah serta mampu mengendalikan simpangan dan respon torsi secara efektif. Temuan ini menunjukkan bahwa pada struktur berdenah berbentuk L, besarnya eksentrisitas tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator ketidakberaturan torsi. Hubungan antara eksentrisitas dan respon torsi pada struktur berdenah tidak beraturan tidak bersifat linier. Besarnya eksentrisitas hanya merepresentasikan potensi terjadinya torsi, sedangkan respon torsi aktual lebih dipengaruhi oleh distribusi kekakuan, karakteristik struktur dinamis, serta konfigurasi sistem penahan gaya lateral yang menentukan kemampuan struktur dalam mengendalikan simpangan akibat beban gempa.