Abstract
Tingginya emisi CO₂ dari industri semen mendorong pemanfaatan limbah konstruksi, seperti gypsum, sebagai substitusi parsial semen. Meskipun gypsum dapat bertindak sebagai filler, kelebihan sulfat dapat memicu ekspansi ettringite sekunder yang merusak beton. Penelitian eksperimental deskriptif-kuantitatif ini mengkaji pengaruh substitusi serbuk limbah gypsum (3%, 5%, dan 7%) terhadap workability, kuat tekan, kuat tarik belah, dan mikrostruktur beton (fc' 20 MPa). Pengujian meliputi uji slump, kuat tekan dan tarik belah (umur 7, 14, 28 hari), XRF, serta SEM. Hasil menunjukkan workability stabil pada slump 7,00–7,33 cm. Namun, substitusi memicu penurunan progresif pada kuat tekan umur 28 hari: dari 23,14 MPa (0%), 20,31 MPa (3%), 17,14 MPa (5%), hingga 13,36 MPa (7%). Kuat tarik belah juga menurun dari 2,31 MPa menjadi 1,58 MPa. Analisis SEM mengonfirmasi degradasi matriks dan pertumbuhan masif ettringite sekunder pada kadar 5–7%. Secara ekonomi, penghematan biaya dari variasi 7% sangat marginal (Rp17.342,00/m³ atau <1% dari biaya beton normal). Kesimpulannya, substitusi limbah gypsum masih layak dipertimbangkan pada kadar di bawah 5%, sedangkan kadar 7% memicu degradasi struktural signifikan sehingga tidak direkomendasikan untuk elemen beton struktural.