Abstract
Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi penyebab kematian kedua terbesar akibat satu agen infeksi. Pengidap TB paru di dunia terus mengalami peningkatan, dan persentase keberhasilan pengobatan TB di Indonesia pun belum mencapai target hingga saat ini. Polimorfisme genetik didefinisikan sebagai variasi DNA yang terlihat pada ≥1% populasi. Studi polimorfisme genetik dapat membantu identifikasi risiko penyakit, memprediksi efikasi dan keamanan obat, serta menentukan agen kemoterapeutik yang tepat dengan dosis yang sesuai dengan masing-masing pasien. Telah ditemukan berbagai polimorfisme genetik yang berhubungan dengan kerentanan TB paru, yaitu polimorfisme gen NRAMP1, HLA-DRB1, reseptor vitamin D, TNF-α, dan IFN-γ. Selain itu, juga ditemukan beberapa polimorfisme genetik berkaitan dengan pengobatan TB, seperti gen SLCO1B1, NAT2, SLC2A9, dan ABCB1. Deteksi polimorfisme genetik pada setiap individu dapat membantu memprediksi risiko terhadap penyakit TB dan meningkatkan keberhasilan pengobatan TB serta mengurangi efek samping yang mungkin dapat terjadi akibat pengobatan TB.