Abstract
Prolaps uteri merupakan kondisi ginekologi di mana organ uterus mengalami penurunan ke dalam maupun ke luar vagina. Prevalensi prolaps uteri adalah 50% pada wanita yang pernah melahirkan. Prolaps uteri merupakan salah satu jenis Prolaps Organ Panggul (POP), yang ditandai oleh herniasi atau turunnya uterus ke dalam maupun ke luar vagina akibat melemahnya otot dasar panggul dan jaringan pendukung lainnya, seperti ligamen dan fasia. Beberapa faktor risiko, seperti penuaan, peningkatan tekanan intra-abdomen, atau multiparitas, dapat menyebabkan kondisi ini. Diagnosis dapat ditegakkan menggunakan sistem Pelvic Organ Prolapse Quantification (POP-Q). Penatalaksanaan yang efektif memerlukan pencegahan dini melalui latihan otot dasar panggul dan strategi pengobatan, yang mencakup penggunaan pesarium atau intervensi bedah. Prolaps uteri tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menimbulkan morbiditas yang signifikan dan berdampak negatif pada kualitas hidup pasien, baik fisik maupun mental. Studi ini melaporkan kasus seorang wanita berusia 57 tahun (P3A0) yang datang dengan keluhan utama adanya massa yang keluar dari vagina sejak 3 tahun terakhir. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis mengalami prolaps uteri derajat 3. Dari inspeksi, diketahui adanya riwayat pemberian terapi pesarium, tetapi keluhan subjektif tidak membaik. Pasien dirawat inap dan direncanakan menjalani tindakan histerektomi transvaginal total dengan kolporafi anterior dan posterior. Prognosis klinis pasca histerektomi transvaginal total adalah bonam, ditandai dengan perbaikan luaran hidup dan fungsionalitas, hilangnya keluhan prolaps, peningkatan kualitas hidup, serta penurunan risiko kekambuhan pada wanita pascamenopause.