Abstract
ABSTRACT
The development of Artificial Intelligence (AI) has introduced new forms of interaction between humans and technology, including the use of ChatGPT as a confidant among university students. This study aims to identify the reasons students choose ChatGPT as a confidant, understand their perceptions of the experience of confiding in ChatGPT, and analyze its implications for student communication at Institut Mpu Kuturan Singaraja. This study employed a descriptive qualitative approach involving four students selected purposively based on their experience using ChatGPT to disclose personal concerns. Data were collected through semi-structured interviews, observation, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman interactive model through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that students choose ChatGPT as a medium for confiding because it is perceived as comfortable, responsive, non-judgmental, and provides a safer space for expressing personal concerns. Students also perceive ChatGPT not merely as a technological tool but as a communicator with whom they can interact and whom they may position socially as a friend or older sibling. This use indicates the formation of a human–AI relationship that complements, rather than replaces, social relationships with humans, although students remain aware of ChatGPT's limitations as a machine without emotions or consciousness. This study confirms that ChatGPT has become part of students' communication experiences and a medium for fulfilling their emotional needs.
ABSTRAK
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) menghadirkan bentuk interaksi baru antara manusia dan teknologi, termasuk penggunaan ChatGPT sebagai teman curhat oleh mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan mahasiswa memilih ChatGPT sebagai teman curhat, memahami persepsi terhadap pengalaman curhat, serta menganalisis implikasinya dalam komunikasi mahasiswa di Institut Mpu Kuturan Singaraja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan empat mahasiswa sebagai informan yang dipilih secara purposive berdasarkan pengalaman menggunakan ChatGPT untuk menyampaikan persoalan pribadi. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memilih ChatGPT sebagai media curhat karena dipersepsikan nyaman, responsif, tidak menghakimi, dan memberikan ruang yang lebih aman untuk mengungkapkan persoalan personal. Mahasiswa juga memaknai ChatGPT bukan hanya sebagai alat teknologi, tetapi sebagai komunikator yang dapat diajak berinteraksi dan diberi posisi sosial seperti teman atau kakak. Penggunaan tersebut menunjukkan terbentuknya relasi manusia–AI yang bersifat komplementer terhadap hubungan sosial dengan manusia, meskipun mahasiswa tetap menyadari keterbatasan ChatGPT sebagai mesin tanpa emosi dan kesadaran. Penelitian ini menegaskan bahwa ChatGPT telah berkembang menjadi bagian dari pengalaman komunikasi dan pemenuhan kebutuhan emosional mahasiswa.