Abstract
ABSTRACT
The rapid growth of social media presents both challenges and strategic opportunities for preserving regional languages in the era of globalization. Using a qualitative approach with a narrative descriptive method, this study aims to analyze the existence of the Buleleng dialect on the Instagram account @jemtattoo.id, focusing on the motives behind its usage, the stages of the communication process in content production, and its implications for the survival of the Buleleng dialect in digital spaces. Data were collected through content observation, documentation, and in-depth interviews with the account owner, production team, and followers, and subsequently analyzed using the Miles and Huberman model (data reduction, data display, and conclusion drawing). The theoretical framework incorporates Symbolic Interactionism, Sociolinguistics, and the Stimulus-Organism-Response (S-O-R) Theory. The findings indicate that the motives for using the Buleleng dialect stem from personal/cultural branding needs, social identity affirmation, authentic message delivery, and emotional closeness with the audience. The communication process encompasses three integrated stages: pre-production (concept planning), production (use of distinct dialogue, intonation, and spontaneous expressions), and post-production (audience interaction via comment sections). The implications of this practice include reinforcing local identity, preserving regional languages, boosting audience engagement, and encouraging the audience's reproduction of the local language in social media interactions. This study concludes that social media serves as a strategic platform to represent, reproduce, and preserve regional languages and culture within digital communication spaces.
ABSTRAK
Perkembangan media sosial menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi pemertahanan bahasa daerah di tengah arus globalisasi. Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif naratif ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi dialek Buleleng pada akun Instagram @jemtattoo.id, yang berfokus pada motif penggunaan dialek, tahapan proses komunikasi dalam produksi konten, serta implikasinya terhadap eksistensi dialek Buleleng di ruang digital. Data dikumpulkan melalui observasi konten, studi dokumentasi, serta wawancara mendalam dengan pemilik akun, tim produksi, dan pengikut akun, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman (reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan). Kerangka teoretis yang digunakan mencakup Teori Interaksi Simbolik, Sosiolinguistik, dan Teori Stimulus-Organism-Response (S-O-R). Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif penggunaan dialek Buleleng didasari oleh kebutuhan branding personal/budaya, penegasan identitas sosial, penyampaian pesan yang autentik, dan pembentukan kedekatan emosional dengan audiens. Proses komunikasi terbagi menjadi tiga tahapan: pra-produksi (perencanaan konsep), produksi (penggunaan dialog, intonasi khas, dan ekspresi spontan), serta pasca-produksi (interaksi melalui kolom komentar). Implikasi dari praktik ini meliputi penguatan identitas lokal, pelestarian bahasa daerah, peningkatan engagement audiens, serta terjadinya reproduksi bahasa lokal oleh audiens dalam interaksi digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media sosial berfungsi sebagai media strategis untuk merepresentasikan, mereproduksi, dan melestarikan bahasa serta budaya daerah pada era digital.