Abstract
Social studies learning at the junior secondary school level needs to focus not only on knowledge acquisition but also on deep conceptual understanding, awareness of the learning process, and active student engagement. However, empirical studies on the implementation of the Deep Learning approach in junior secondary social studies remain limited, particularly those examining the integrated application of Meaningful Learning, Mindful Learning, and Joyful Learning in actual classroom practice. This study aims to analyze the implementation of the Deep Learning approach in social studies learning in Grade VII C at SMP Pemda 2 Kesugihan and identify the supporting and inhibiting factors in its implementation. This study employed a qualitative approach involving the vice principal, a Grade VII social studies teacher, and students of Grade VII C at SMP Pemda 2 Kesugihan as informants. Data were collected through interviews, observation, and documentation. The findings indicate that the Deep Learning approach was implemented through the stages of planning, innovation development, design trials, and student-centered learning. Its implementation incorporated three main components, namely Meaningful Learning, Mindful Learning, and Joyful Learning, which were reflected in efforts to connect learning materials with students' experiences, develop awareness throughout the learning process, and create an enjoyable and participatory learning environment. Supporting factors included active student participation, collaboration, the use of learning media, and the teacher's role as a facilitator. Meanwhile, inhibiting factors included differences in students' learning styles and readiness, limited instructional time, insufficient teacher training, limited school facilities and technology, and suboptimal learning evaluation. The strategies implemented by the teacher included creating a conducive learning environment, planning teaching modules, utilizing available media and technology, employing engaging learning methods, and providing prompting questions to encourage student engagement, critical thinking skills, and understanding.
ABSTRAK
Pembelajaran IPS pada jenjang SMP perlu diarahkan tidak hanya pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pemahaman konseptual yang mendalam, kesadaran dalam proses belajar, dan keterlibatan aktif peserta didik. Namun, kajian empiris mengenai implementasi pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran IPS pada jenjang SMP masih terbatas, khususnya yang mengkaji penerapan Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning secara terpadu dalam praktik pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran IPS di kelas VII C SMP Pemda 2 Kesugihan serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam penerapannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan narasumber yang terdiri atas wakil kepala sekolah, guru IPS kelas VII, dan peserta didik kelas VII C SMP Pemda 2 Kesugihan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendekatan Deep Learning dilaksanakan melalui tahap perencanaan, pengembangan inovasi, uji coba rancangan, dan pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Penerapannya mencakup tiga komponen utama, yaitu Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning, yang tercermin dalam upaya menghubungkan materi dengan pengalaman peserta didik, membangun kesadaran dalam proses belajar, serta menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan partisipatif. Faktor pendukung meliputi partisipasi aktif peserta didik, kolaborasi, penggunaan media pembelajaran, dan peran guru sebagai fasilitator. Sementara itu, faktor penghambat meliputi perbedaan gaya belajar dan kesiapan peserta didik, keterbatasan waktu, kurangnya pelatihan guru, keterbatasan fasilitas dan teknologi, serta evaluasi pembelajaran yang belum optimal. Strategi yang diterapkan guru meliputi penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, perencanaan modul ajar, pemanfaatan media dan teknologi yang tersedia, penggunaan metode yang menarik, serta pemberian pertanyaan pemantik untuk mendorong keterlibatan, kemampuan berpikir kritis, dan pemahaman peserta didik.