Abstract
ABSTRACT
Differences in learning experiences between groups provide a basis for examining how interactive digital storytelling operates in IPAS learning for fifth-grade elementary school students. This study was directed at analyzing the effect of this medium on students’ collaboration skills by comparing achievement before and after learning between the treatment group and the control group. A total of 86 students participated in this quantitative study using a quasi-experimental approach and a nonequivalent control group design, with 43 students assigned to each group. Collaboration skills were measured using a 20-item questionnaire on a four-point Likert scale administered as a pretest and posttest. Data processing included descriptive statistics, the Shapiro-Wilk test, Levene’s test, an independent samples t-test, N-Gain, and Cohen’s d, with the assistance of SPSS. Initial equivalence was reflected in mean pretest scores of 31.16 for the experimental group and 31.26 for the control group (p = 0.872). Following the learning intervention, the respective mean posttest scores reached 68.51 and 45.19 (p = 0.000), with an N-Gain of 0.76 categorized as high for the experimental group and 0.28 categorized as low for the control group. Cohen’s d of 2.10 fell within the very large category. This pattern indicates that the change was not limited to final achievement and that interactive digital storytelling was associated with greater improvement in students’ collaboration skills within the IPAS learning context examined.
ABSTRAK
Perbedaan pengalaman belajar antarkelompok menjadi dasar untuk melihat bagaimana digital storytelling interactive bekerja dalam pembelajaran IPAS kelas V sekolah dasar. Penelitian ini diarahkan untuk menganalisis pengaruh media tersebut terhadap kemampuan kolaborasi siswa melalui perbandingan capaian sebelum dan sesudah pembelajaran pada kelompok yang memperoleh perlakuan dan kelompok kontrol. Sebanyak 86 siswa terlibat dalam penelitian kuantitatif dengan quasi experiment dan desain nonequivalent control group design, masing-masing 43 siswa pada kelompok eksperimen dan kontrol. Kemampuan kolaborasi diukur menggunakan angket 20 pernyataan berskala Likert empat tingkat yang diberikan sebagai pretest dan posttest. Pengolahan data mencakup statistik deskriptif, Shapiro-Wilk, Levene, independent samples t-test, N-Gain, dan Cohen’s d dengan bantuan SPSS. Kesetaraan awal terlihat dari rata-rata pretest 31,16 pada kelompok eksperimen dan 31,26 pada kelompok kontrol (p=0,872). Setelah pembelajaran, rata-rata posttest masing-masing mencapai 68,51 dan 45,19 (p=0,000), dengan N-Gain kelompok eksperimen sebesar 0,76 berkategori tinggi dan kelompok kontrol 0,28 berkategori rendah. Cohen’s d sebesar 2,10 termasuk kategori sangat besar. Pola tersebut memberikan gambaran bahwa perubahan tidak hanya tampak pada capaian akhir. Temuan ini memperlihatkan bahwa digital storytelling interactive berkaitan dengan peningkatan kemampuan kolaborasi yang lebih tinggi dalam konteks pembelajaran IPAS yang diteliti.