Abstract
Penelitian ini mengkaji framing media dan strategi komunikasi krisis institusi keagamaan dalam merespons ancaman reputasi, dengan fokus pada kasus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan dugaan aliran dana perusahaan tambang di Raja Ampat pada Juni 2025. Kontroversi ini menyentuh isu transparansi ekonomi sekaligus kredibilitas institusi keagamaan yang berpengaruh secara sosial-politik di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis framing pemberitaan tiga media daring nasional dengan orientasi redaksional berbeda, yaitu Antara News, CNN Indonesia, dan IDN Times, serta mengidentifikasi strategi komunikasi krisis PBNU. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan model framing empat dimensi Pan dan Kosicki (sintaksis, skrip, tematik, dan retoris), dilengkapi kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dari Coombs. Data dikumpulkan melalui dokumentasi berita daring dan pernyataan resmi PBNU, lalu dianalisis secara manual dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Pertama, setiap media membangun bingkai berbeda: Antara News menampilkan klarifikasi netral berorientasi pemerintah; CNN Indonesia menyusun narasi dua sisi yang kompleks; sedangkan IDN Times mengadopsi pendekatan cek fakta investigatif yang skeptis terhadap klarifikasi PBNU. Kedua, respons PBNU mengandalkan strategi penyangkalan (denial) melalui pernyataan verbal dan rilis pers, tanpa dukungan data keuangan atau dokumentasi transparan, sehingga bersifat reaktif dan belum berbasis akuntabilitas. Temuan ini menunjukkan bahwa framing media signifikan membentuk persepsi publik terhadap institusi keagamaan yang menghadapi krisis, sekaligus mengungkap praktik komunikasi krisis PBNU yang belum sepenuhnya mengadopsi standar komunikasi korporat modern.