Abstract
Perubahan iklim telah menjadi salah satu isu utama dalam agenda pembangunan berkelanjutan, karena emisi gas rumah kaca global mencapai 53,2 GtCO₂e pada tahun 2024 (EDGAR, 2025). Di Indonesia, pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 13 masih tertinggal dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara, yang menunjukkan adanya masalah yang memerlukan kajian lebih lanjut. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Akuntansi Hijau dan Akuntansi Biaya Arus Material terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 13, dengan Kinerja Lingkungan sebagai variabel moderasi, pada perusahaan sektor bahan baku yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2023-2025. Studi ini menggunakan pendekatan asosiatif-kausal kuantitatif dengan sampel 27 perusahaan dan 81 observasi panel yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan regresi data panel dengan EViews 13. Hasilnya menunjukkan bahwa, secara parsial, Akuntansi Hijau memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap SDG 13 (prob. 0,0001 0,05). Kinerja Lingkungan tidak memoderasi hubungan antara Akuntansi Hijau dan Akuntansi Biaya Aliran Material terhadap SDG 13, meskipun memiliki pengaruh langsung negatif dan signifikan terhadap SDG 13. Secara simultan, Akuntansi Hijau dan Akuntansi Biaya Aliran Material memiliki pengaruh signifikan terhadap SDG 13 (prob. 0,000 < 0,05), dengan R-squared yang disesuaikan sebesar 0,7807.