If your browser cannot display the PDF here, use “Open PDF in a new tab”.
Abstract
Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah perspektif alternatif dalam memahami doktrin penebusan dan pembenaran, dua doktrin fondasional iman Kristen yang seringkali terjebak dalam perdebatan reduksionis. Kecenderungan untuk memutlakkan satu model penebusan, khususnya substitusi penal, telah menuai kritik dari berbagai konteks teologis karena dinilai mengabaikan dimensi relasional dan berpotensi memperkuat budaya kekerasan. Untuk mengatasi kebuntuan ini, artikel ini menggunakan pendekatan kanonis-linguistik yang digagas oleh Kevin J. Vanhoozer dalam The Drama of Doctrine (2005) dan diterapkan secara spesifik pada doktrin penebusan oleh Jacobus D.W. de Koning. Melalui metode penelitian kualitatif studi literatur dengan analisis eksegetis-terbatas, integratif, dan konstruktif, artikel ini menghasilkan dua temuan utama. Pertama, penebusan adalah satu narasi berkesinambungan dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, bukan kumpulan motif yang terpisah. Kedua, pendekatan kanonis-linguistik mampu mengintegrasikan berbagai model penebusan ke dalam satu drama perjanjian dengan salib sebagai pengesahan final perjanjian dan peneguhan Kerajaan Allah.